Apakah lukisan ini bisa berarti apa pun sesuai keinginan kita?

Sumatra Pos/ Foto: Gizmodo
Sumatra Pos/ Foto: Gizmodo
SUMATRAPOS.COM — Dalam 500 tahun sejak Leonardo da Vinci melukis Mona Lisa, gambar tersebut telah memainkan berbagai peran bagi orang yang melihatnya.
Apakah seni berarti apa pun yang kita inginkan? Minggu ini Mona Lisa muncul pada parade di jalan-jalan Polandia, memprotes undang-undang yang dapat melarang aborsi dalam keadaan apa pun, bahkan jika nyawa ibu dalam bahaya.
Hal ini memunculkan sebuah pernyataan kebudayaan yang menarik: apakah sejumlah karya seni begitu elastis dan ambigu, sehingga dapat mewakili pesan apa pun yang kita ingin sampaikan?
Bukannya membawa plakat dengan slogan “Moja macica, mój wybór” (“rahimku, pilihanku”) kebanyakan sesama pengunjuk rasa membawa reproduksi yang lebih besar dari aslinya, dari potret terkenal Leonardo da Vinci atas wanita Florentine, Lisa del Giocondo, tangan dan senyumnya yang sulit diartikan sepertinya dipandang dapat lebih menggambarkan ketidakpuasan mereka.
Mona Lisa karya Leonardo da Vinci diartikan dalam berbagai definisi dalam 500 tahun sejak dilukis. (Sumatra Pos/Foto: BBC)
Mona Lisa karya Leonardo da Vinci diartikan dalam berbagai definisi dalam 500 tahun sejak dilukis. (Sumatra Pos/Foto: BBC)
Kita sekarang mengetahui peserta unjuk rasa “Black Monday” yang dilakukan seantero negeri tersebut berhasil mempengaruhi anggota DPR untuk mengubah haluan dan membatalkan undang-undang yang sangat dikecam itu.
Tetapi Lisa disalahgunakan pengunjuk rasa karena dipakai untuk mewakili pemikiran yang dia (dan seniman yang melukisnya) kemungkinan tidak dukung?
Saat mengkaji lukisan berdasarkan kacamata sejarah, orang yang mempertanyakan penggunaannya.
Banyak pengamat sekarang memperkirakan Lisa sendiri kemungkinan hamil saat menjadi model potret da Vinci.
Di tahun 2006, tim peneliti menggunakan imaging 3D mengungkap adanya pakaian tipis, guarnello, sejenis kerudung yang dipakai wanita Renaissance Italia saat hamil.
Tetapi seni besar melampaui keadaan saat dibuat dan dalam 500 tahun sejak potret itu dibuat, Mona Lisa telah menjadi bagian imajinasi umum.
Saat melihat arsip abad ke-16 Florence, untuk menjadi bukti sikap kontemporer terkait aborsi guna memutuskan apakah Lisa mendukung tujuan unjuk rasa Black Monday akan berisiko menjadikan mahakarya da Vinci sebagai sebuah catatan kaki waktu dan tempat tertentu.
(Bagi yang ingin mengetahuinya: adalah kecil kemungkinan Lisa dan generasinya memandang aborsi sebagai pelanggaran hukum. Kode hukum Florence pada saat itu, menurut Nicholas Terpstra, guru besar sejarah pada University of Toronto “tidak menyebut aborsi dan sudah pasti tidak memandangnya sebagai bentuk pembunuhan yang dapat dihukum”).
Dipakainya Mona Lisa oleh para pegiat Polandia minggu ini hanya menegaskan statusnya sebagai sebuah ikon yang paling mudah dipakai.
Kemampuannya dapat selamat dari penculikan (lukisan ini diculik pada tahun 1911 dan hilang selama dua tahun), menjadi bahan parodi (Marcel Duchamp memasang kumis padanya di tahun 1919 diatas inisial LHOOQ yang berartinya ‘bokongnya seksi” dalam bahasa Perancis) dan perhatian yang diberikan sama dengan kepada selebriti selama berabad-abad, memberikannya gelar misterius.
Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_cul/2016/10/161016_vert_cul_monalisa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: