Minggu, Juli 21

Batik Banten yang Menolak Hilang

Uke Kurniawan Pelopor Produsen Batik Banten. (hk/spo)

Sumatrapos.com, Banten – Sebelum Sunda Kalapa, pintu masuk ke Tanah Jawa (bahkan Nusantara) adalah pelabuhan di Banten. Para awak Kapal Belanda yang paling awal tiba di Indonesia pun menjejakkan kaki mereka pertama kali di daratan Banten pada Abad ke-16.

Seabad kemudian, Belanda sudah mengenal banyak hal tentang kepulauan Nusantara. Termasuk di antaranya kain batik yang mereka sebut dengan Dongker Brooven Rim Rood, atau lebih dikenal lagi dengan sebutan Simbut van Bantam. Simbut sendiri adalah bahasa Sunda untuk kata selimut.

Kisah tersebut menandakan adanya kemungkinan tradisi membatik di wilayah Kesultanan Banten, setidaknya sejak Abad ke-17. Sayangnya, itu pula satu-satunya jejak kisah keberadaan batik di Banten.

Beberapa abad kemudian seiring dengan berakhirnya kejayaan Kesultanan Banten, tradisi membatik di wilayah ujung barat Pulau Jawa ini mulai luntur. Bahkan nama Banten sebagai masyarakat produsen batik tak pernah terdengar sejak itu.

Demikian diungkapkan Uke Kurniawan dalam buku berjudul “These Clothes Tell Stories.” Uke sendiri adalah pelopor produsen Batik Banten. Atau bisa juga disebut yang membangkitkan kembali batik Banten, bila merujuk pada kisah di awal tadi.

Uke tidak gegabah membangkitkan warisan yang hilang. Kisah Uke menemukan batik Banten bisa dibilang berawal dari perkenalannya dengan arkeolog senior Indonesia Prof. Dr. H. Hasanmurif Ambary (alm) pada 2002. Di kemudian hari, Uke banyak ikut meneliti dan menulis tentang Banten bersama Hasanmurif.

Sejak itu pula pemahaman Uke tentang masa lalu Banten semakin terbuka. Termasuk soal penemuan sekelompok peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional yang menggali reruntuhan Banten lama, pada 1971.

Kelompok peneliti ini menemukan beberapa artefak kuno. Di antaranya pintu gerbang yang beratap, tempat tinggal pangeran, tempat tinggal pembuat keris, tempat tinggal penenun, tempat menghadap raja, dan bangsal raja.

Oleh Uke, beberapa temuan ruang artefak tersebut dikaji selama enam bulan dan berhasil menemukan 75 ragam hias rekonstruksi khas Banten. “Temuan rekonstruksi ragam hias tersebut lantas dipadukan menjadi motif batik dengan semangat merekonstruksi kembali sejarah Banten,” ujar Uke di Jakarta, Senin (8/7).

Hasil kreativitas berbasis penemuan ilmiah kesejarahan inilah yang kemudian disebut Batik Banten. Hingga kini, dari tangan Uke telah tercipta 250 motif batik. Sebanyak 170 di antaranya sudah dipatenkan bersama ikatan arkeolog dan ilmuan dari Universitas Indonesia.

Seperti judul buku yang ditulis Uke di atas tadi, masih banyak kisah menarik lain mengenai Batik Banten. Pada 12-14 Juli 2019 mendatang, Batik Banten akan menjadi salah satu peserta pameran event Karya Kreatif Indonesia (KKI 2019) di Jakarta Convention Center, Jakarta. Di acara yang digagas Bank Indonesia tersebut, Uke akan membawa 16 motif Batik Banten.

Dijadwalkan pula, Uke tampil di panggung utama untuk menerima kalungan bunga sebagai penghargaan atas dedikasinya dalam membangkitkan kembali batik yang sempat hilang selama berabad-abad.

Selain Batik Banten, KKI 2019 juga akan menampilkan parade kain Nusantara karya desainer terkenal seperti Toton Januar, Dian Pelangi, Ria Miranda, Tuti Adib, dan Didi Budiardjo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: