Cerita Penemuan ‘Walking Shark’ dari Perairan Maluku Utara

Sumatra Pos/Foto: CNN Indonesia
Sumatra Pos/Foto: CNN Indonesia
SUMATRAPOS.COM – Hiu identik dengan hewan buas berukuran besar yang hidup di laut pedalaman. Namun tidak demikian dengan ‘walking shark‘ atau hiu berjalan yang ditemukan di Ternate, Maluku Utara.
Hemiscullium Halmahera atau ikan gorango haga–sebutan umum masyarakat Ternate untuk semua jenis hiu di Malut memiliki tampilan yang jauh berbeda dari hiu pada umumnya.
Hiu berjalan memiliki panjang 68 cm hingga 1,22 meter dengan warna cokelat dan kulit totol-totol yang membuatnya masuk dalam kategori hiu jenis bambu.
Selama ini warga setempat mengira tak ada yang istimewa dari ikan hiu berjalan. Temuan dan buah kerja keras biologis asal Australia, Gerard Allen membuat walking shark mendapatkan pengakuan secara ilmiah.
Pertemuan Allen dengan hiu berjalan pertama kali terungkap saat ia menyelam di perairan Falajawa, Ternate Tengah pada 2008 siam. Lima tahun setelahnya, ia dan rekan-rekannya baru berhasil mengklaim hiu berjalan sebagai spesies baru.
Warna dasar coklat dengan sejumlah bintik gelap berbentuk poligon membuat hiu berjalan sepintas menyerupai Hemiscyllium galei dari Papua Barat. Perbedaan pola bintik yang memiliki tujuh bintik gelap berukuran besar di sisi-sisi tubuhnya.
Hemiscyllium halmahera memiliki bentuk sirip dada, panggul, dan punggung untuk ‘berjalan’ saat mencari makanan berupa ikan-ikan kecil dan invertebrata. Bentuk tubuhnya ini membantu hiu berjalan dewasa meletakkan telur-telur di langkan karang.
“Karena keterbatasan pengetahuan, kita bahkan tidak tahu bahwa hiu berjalan ini hewan endemik Maluku Utara,” ungkap Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Nurkhalis Wahidin kepada CNNIndonesia.com.

Di Balik Terumbu Karang

Nurkhalis mengatakan hewan ini hanya beraktivitas pada malam hari dan mudah dilihat di habitat antara padang lamun dan terumbu karang. Sementara di siang hari, ikan gorango cenderung berdiam atau berlindung di balik terumbu karang.
Meskipun diganggu atau diusik, pada siang hari ikan gorango tidak akan bergeming atau keluar dari tempat persembunyiannya.
“Meskipun misalnya sampai yang ekstrem ditarik-tarik dia tetap berada di balik karang, sehingga inilah yang menyebabkan masyarakat kita menyebutnya gorango haga. Haga bisa diartikan “bodoh” atau “hampa” atau “kosong”. Jadi diubek-ubek ya diam saja,” imbuhnya.
Keempat sirip yang di masing-masing sisi ada dua sirip membantu ikan gorango berjalan.
Ikan gorango kerap ditemukan di karang-karang yang terisolasi dan diketahui tak pernah menyeberangi lautan dalam. Di kedalaman dua hingga tiga meter, hiu berjalan sudah bisa ditemui.
Adita Agoes, penyelam Nasijaha Diving Club (NJDC) mengungkapkan, hiu berjalan mudah ditemui di titik-titik selam di bagian timur hingga selatan Pulau Ternate. Mereka biasanya muncul saat penyelaman malam, dan nyaris tak pernah berkelompok.
“Dari Pelabuhan Ahmad Yani ke arah utara sampai Dodoku Ali, hiu berjalan biasanya muncul di situ,” ungkap Adita.
Tingkat keanekaragaman hayati di perairan Malut salah satunya ditunjukkan dengan tingginya populasi hiu berjalan. Selain hiu berjalan, diyakini ada lebih banyak spesies yang hingga kini belum teridentifikasi.
Hasil penelitian mengenai ikan goronga diterbitkan dalam Aqua International Journal pada Juli 2013, dengan judul ‘Hemiscyllium Halmahera, A New Species of Bamboo Shark (Hemiscylliidae) from Indonesia’.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180815143846-199-322475/cerita-penemuan-walking-shark-dari-perairan-maluku-utara

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: