Kamis, Februari 27

Dua Siswa SMA TI Palembang Meninggal Dunia, KPAI Minta Polisi Usut Tuntas

Bagikan
Komisioner KPAI, Retno Listyarti bersama ibunda WJ yang sangat terpukul dengan dugaan kekerasan yang dialami Wj (14). (hk/spo)

Sumatrapos.com, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengutuk kekerasan yang dialami siswa DBJ (14) dan WK (14) yang meninggal dunia ketika mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan berdasarkan  UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pasal 54 menyatakan kewajiban sekolah ialah melindungi anak-anak dari tindakan kekerasan selama berada di lingkungan sekolah, baik kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, petugas sekolah maupun sesama peserta didik.

“KPAI mendesak Kemdikbud, Pemerintah Provinsi dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Selatan untuk membentuk Tim khusus guna mengevaluasi total dan mengaudit keuangan SMA TI, Palembang dan juga sekolah-sekolah sejenis yang mengaku semi militer di wilayah Sumatra Selatan agar tidak jatuh korban lagi. Lembaga pendidikan seharusnya zero kekerasan.” kata Retno dalam keterangan pers,  Sabtu (20/7/2019).

KPAI meminta Kemdikbud bekerjasama dengan Dinas-dinas Pendidikan di berbagai daerah untuk melakukan pemantauan dan dan pengawasan ke sekolah-sekolah semi militer sejenis di seluruh Indonesia, guna memastikan bahwa sekolah-sekolah tersebut tidak melakukan kekerasan dalam mendisiplinkan para siswanya. Seharusnya tidak ada istilah “Semi Militer” di lembaga pendidikan pada jenjang PAUD s,d, SMA/SMK.

“KPAI juga mendorong pihak Kepolisian juga mengusut tuntas kasus meninggalnya ananda WJ, karena dari keterangan pihak keluarga kepada KPAI,  WJ juga sempat menceritakan kembali kalau dirinya mengalami kekerasan selama mengikuti MPLS dan keluarga merekam pernyataan WJ tersebut.” tegas Retno.

Retno menceritakan saat KPAI datang, WJ dalam kondisi koma. Setiba di RS, KPAI langsung melihat kondisi WJ di ruang ICU dan sempat mengobrol cukup lama dengan ayah, ibu dan Nenek dari WJ.

Keluarga menceritakan kepada komisioner KPAI bahwa anaknya tidak memiliki penyakit bawaan, apalagi di bagian pencernaan (usus), WJ tumbuh kembang secara sehat, kuat dan jarang sakit. WJ juga memiiki postur tubuh yang tinggi dan besar.  WJ memang memiliki cita-cita menjadi TNI sejak kecil, sehingga WJ ingin sekali bersekolah di SMA TI, Palembang.

Kedua orangtua mengaku saat mengantar WJ memasuki asrama di SMA TI pada Sabtu, 6 Juli 2019 dalam keadaan sehat dan bugar. Namun, setelah mengikuti kegiatan sejenis MPLS (di SMA TI di sebut Masa Dasar Bimbingan Fisik dan Mental) selama satu minggu, pihak keluarga ditelepon oleh pihak sekolah bahwa WJ berada di RS Karya Asih Palembang. Tentu saja keluarga sangat terkejut.

Sesampai di RS, pihak keluarga ditemui dokter dan disampaikan bahwa setelah diperiksa tim medis, WJ diharuskan menjalani operasi karena usus terbelit atau bocor. Sebelum melaksanakan operasi, WJ mengaku kepada orang tuanya bahwa dirinya mengalami kekerasan saat MPLS tersebut. Bahkan WJ menanyakan kondisi DBJ (14), kawan seangkatannya yang akhirnya meninggal dengan kasus serupa. WJ pun dalam kondisi komanya seringkali meracau dan mengigau ‘ampun, ampun komandan’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: