Relawan Jokowi Sebut Kebohongan Ratna Sarumpaet Adalah Propaganda Politik

Ketua Umum Pak Tejo Tigor Doris Sitorus.
SUMATRAPOS.COM–Ketua Umum Pasukan Tetap Jokowi (Pak Tejo)  Tigor Doris Sitorus menduga pemberitaan Ratna Sarumpaet (RS) selama sepekan ini  merupakan teknik propaganda politik yang dibuat pihak tertentu untuk mempengaruhi pikiran masyarakat. Menurut Tigor tidak hanya pemberitaan RS, pemberitaan tentang intimidasi dan pembakaran mobil Neno Warisman serta pemberitaan  dugaan homoseksual Sandiaga Uno adalah teknik propaganda politik yang memiliki tujuan yang sama.
Pemberitaan-pemberitaan propaganda itu  sengaja dibuat konsultan asing yang disewa salah satu capres. Bahkan Tigor menduga konsultan asing ini juga ikut berperan dalam memenangkan pilpres Amerika dan Rusia.
“Selama ini mereka menggunakan jasa konsultan dalam negeri tapi sekarang mereka menggunakan jasa konsultan asing, kita bukan buruk sangka atau terlalu reaktif tetapi memang ada beberapa kejanggalan pada rentetan peristiwa tersebut dan tidak biasa,” kata Tigor di Jakarta,  Sabtu (6/10).
Tigor menjelaskan misalnya pada kasus RS yang mengaku pada tanggal 1 oktober dianiaya kemudian langsung ditanggapi pihak sebelah tanggal 2 oktober, namun sayangnya tanggal 3 oktober RS mengatakan bahwa pernyataan penganiayaan itu tidak benar.  Tigor menyayangkan kenapa pihak sebelah tidak analitatif tentang masalah RS, seharusnya mereka menganalisa terlebih dahulu benar atau tidak RS di aniaya di Bandara kemudian ditinggalkan begitu saja.
“Jadi jangan  untuk kepentingan politik kemudian menghalalkan segala cara. Apalagi sekarang ini Ratna Sarumpaet kan tidak akan dipercaya lagi. Padahal untuk apa dia melakukan seperti itu, ini sama saja membunuh dirinya sendiri,” tegas Tigor.
Artinya mungkin pihak sebelah sudah stagnan sehingga membuat taktik kampanye seperti itu,  jadi ini perlu diwaspadai dan perlu dilakukan pemetaan apa motivasi serta orientasi dibalik semua ini.
“Hal ini sangat kita sesalkan, Apakah ini tehnik propaganda politik. Memang tehnik propaganda itu diluar rasio namun dampaknya 1.200 orang bisa jadi jadi representasi 360 juta orang, ” ujar Tigor.
Tigor mengingatkan kepada seluruh relawan Jokowi supaya hati-hati dengan teknik propaganda pihak sebelah. Memang secara politik ini sama saja dengan bunuh diri politik namun kita belum tahu apa yang menjadi tujuan dari isu-isu yang dikembangkan.
“Misalnya kenapa RS tidak lapor polisi jika benar dianiaya,  Sandiaga Uno diisukan homoseksual kenapa ga lapor.  Ya mestinya dilapor,  negara kita ini masih tetap menganut sistem bahwa hukum itu adalah panglima,” tegas Tigor.
“Harapan saya, lanjut Tigor,  barisan Jokowi terutama khususnya Pasukan tetap Jokowi jangan mudah terpedaya dengan kondisi ini begini. Jadi mari kita bertanding secara sehat, berdemokrasilah secara dewasa, walaupun mendukung Jokowi tapi kami tidak mau menghalalkan segala.  Kami mau Jokowi itu menang secara elegan secara demokratif dan tidak ada pelanggaran dalam proses pemilihan presiden ini.” Tandasnya.  (HK/SPO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: