Kamis, Februari 27

Waketum Gerindra: Bukan Cuma  Cangkul, Korek Kuping dan Peniti Juga Impor

Bagikan
Ilustrasi Impor. (Foto:net)

Sumatrapos.com, Nasional – Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono menanggapi pidato Presiden Joko Widodo terkait kebijakan impor cangkul sejumlah importir dalam negeri.

Jokowi sebelumnya mengatakan kebijakan impor cangkul di saat neraca perdagangan nasional defisit tidaklah tepat.

“Ini puluhan ribu, ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor. Apakah negara kita yang sebesar ini industrinya yang sudah berkembang benar pacul cangkul harus impor?”  kata Jokowi di Rakornas LKPP di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (6/11).

Arief mengatakan Jokowi baru sadar setelah lima tahun kalau cangkul itu ternyata masih impor. Bukan cuma cangkul  yang di impor banyak jika dilihat  di pasar Jatinegara atau Glodok.

“Kangmas (Jokowi) akan tahu ternyata palu, tang, peniti, jarum, gunting kuku, korek kuping yang merupakan produk produk yang tiap hari dipakai masyarakat semuanya ya di produksi made in china mas.” kata Arief dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/11/2019).

Politisi Gerindra ini mengingatkan pemerintah  jangan hanya bicara digitalisasi pendidikan yang digagas Nadim, atau bicara industri 4.0 atau produksi mobil Esemka, namun faktanya  industri dalam negeri   belum mampu memproduksi korek kuping, jarum, peniti, palu, pahat, pacul, sendok garpu ,gunting kuku,obeng dll.

Jadi banyak industri manufakturing yang  produknya   pasti ada disetiap rumah rumah penduduk atau dipakai oleh masyarkat tidak bisa di produksi oleh industri manufakturing kita selama Indonesia merdeka.

“Nah sebaiknya, di galakan industri seperti itu dulu kangmas. Paling engga nanti kita bisa ekspor juga kangmas. Apalagi industri seperti itu enga butuh teknologi digitalisasi atau masuk katagori industri 4.0 yang butuh robotic. Apalagi bahan baku ada di dalam negeri, seperti besi tua banyak banget tuh.” ujarnya.

Dan dengan demikian dampak membuka lapangan kerja sehingga dengan demikian neraca perdagangan di jamin surplus terus dan  perekonomian tidak lesu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: