Minggu, Juni 16

YLKI Soroti Keamanan dan Keselamatan Tempat Wisata

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi (foto:wartakota)

Sumatrapos.com, Jakarta – Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi,
meminta kepada pemerintah daerah dan pengelola tempat wisata untuk memperhatikan keamanan dan keselamatan wisata beberapa hari saat lebaran. Biasanya masyarakat akan berbondong-bondong menyerbu tempat destinasi wisata untuk merayakan suasana lebaran bersama keluarga.

Menurut Tulus pengelola tempat wisata harus memperhatikan jumlah pengunjung dengan kapasitas maksimal tempat wisata. Jangan secara masif menjual tiket masuk, sehingga terjadi over kapasitas tempat wisata tersebut. Jika hal ini terjadi sangat merugikan bahkan membahayakan konsumen.

Merugikan karena konsumen menjadi tidak optimal dalam menikmati wahana wisata. Dan membahayakan, karena bisa terjadi kecelakaan  di tempat wisata, seperti arena bermain yang patah atau jembatan gantung ambruk.

“Untuk mengantisipasi hal ini, pengelola wisata harus meningkatkan pengawasan yang lebih intensif guna menjamin keamanan dan keselamatan tempat wisata. Konsumen pun jangan memaksakan diri memasuki tempat wisata, jika sekiranya tempat wisata itu sudah berjejal-jejal, over kapasitas.” kata Tulus dalam keterangan persnya, Senin (3/6).

Kedua pengelola wisata agar membuat standar harga makanan dan minuman yang dijual pedagang. Jangan jadikan momen Lebaran untuk membebani konsumen jasa wisata dengan harga terlalu mahal. Pengelola wisata harus mewajibkan pedagang di tempat wisata untuk membuat dan mencantumkan daftar harga dari harga makanan dan minuman yang dijualnya.

Kemudian pengelola tempat wisata agar memerhatikan dan menjaga kebersihan dan higienitas toilet dan juga tempat ibadah. Jangan biarkan toilet kotor, jorok, dan bau. Plus ketersediaan air bersih yang cukup. Demikian juga tempat ibadah, selain bersih juga harus dilengkapi dengan sarana penunjang lainnya, dan dipisahkan antara jemaah laki-laki dan perempuan;

“Jika konsumen dirugikan atas pelayanan jasa wisata, maka cepat-cepatlah melaporkan/mengadukan ke pihak pengelola. Jika responnya tidak memadai, kalau perlu, silakan diviralkan sebagai bentuk hukuman sosial.” ujar Tulus.

Tulus berharap supaya Pemda dan pengelola tempat wisata memerhatikan managemen parkir dan rekayasa lalu lintas di sekitar tempat wisata. Jangan sampai tempat wisata memicu kemacetan di sekitar lokasi, khususnya di jalan raya. Dan yakinkan tidak ada pungli parkir bagi konsumen jasa wisata. (HK/SPO).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: